Saat Komunitas Female Founder Jakarta Gelar Retret “Hapus Aplikasi” Demi Rebut Kembali Fokus Hidup

Last modified date

Pernah nggak sih, lo lagi rapat penting, tiba-tiba notif WhatsApp bunyi, email masuk, DM Instagram nongol—dan otak lo kayak split jadi lima? Bayangin gimana rasanya kalau itu terjadi setiap hari. Setiap jam. Bahkan setiap menit.

Nah, ini yang dirasakan banyak female founder di Jakarta. Perempuan-perempuan yang di siang hari jadi bos bagi puluhan karyawan, tapi di malam hari jadi “budak” bagi ribuan notifikasi. Ironisnya, mereka membangun bisnis di dunia digital, tapi justru kewalahan sama dunia yang mereka ciptakan sendiri.

Makanya, tren terbaru di kalangan komunitas female founder Jakarta bukanlah peluncuran aplikasi baru atau strategi marketing canggih. Tapi justru sebaliknya: menghapus aplikasi. Bukan permanen, tapi untuk sementara. Ini tentang retret “hapus aplikasi”—acara komunal di mana para perempuan pemimpin bisnis ini sengaja melepas gawai mereka, mematikan notifikasi, dan… diam.

Bukan cuma diam. Ini tentang rebut kembali fokus hidup.

Kenapa Female Founder Paling Rentan Burnout Digital?

Coba bayangin beban seorang female founder. Dia harus mikirin product-market fit, ngurus tim, presentasi ke investor, belum lagi urusan rumah tangga dan—kalau dia ibu—mengurus anak. Semua itu terjadi di era di mana batas antara kerja dan hidup udah nggak jelas. Email kantor bisa masuk jam 10 malam. Grup WhatsApp tim nggak pernah sepi. Belum lagi tekanan buat selalu “aktif” di media sosial demi personal branding.

Makanya nggak heran kalau angka burnout di kalangan startup founder itu tinggi. Seorang co-founder Poddium, Nurhasanah (Octa), ngaku pernah ngalamin funding droughts dan burnout yang bikin dia harus belajar ulang apa artinya resiliensi . Ini bukan cerita langka. Ini realita yang dihadapi banyak perempuan di ekosistem startup Jakarta.

Marissa Anita, mantan reporter TV yang kini jadi aktris dan pengusaha, bahkan memilih keluar total dari Instagram dan TikTok. Buat dia, platform itu “melelahkan dan berorientasi penampilan,” sementara TikTok “merusak rentang perhatian dan memicu kecemasan serta FOMO” . Dia cuma aktif di X buat nulis, LinkedIn buat jaringan profesional, dan Pinterest buat referensi. Langkah ini dia sebut sebagai “benteng utama menjaga ketenangan mental” .

Dan ini bukan cuma masalah individu. Data nunjukkin kalau 56% masyarakat Indonesia paling khawatir dengan stres dan kelelahan mental, mengungguli kekhawatiran lain kayak gangguan tidur atau kecemasan . Sementara itu, di kalangan eksekutif urban, survei menunjukkan 61% mengaku “ingin cut off total dari internet minimal 48 jam” . Angka ini bikin kita bertanya: kalau pemimpin bisnis aja kewalahan, gimana dengan yang lain?

Dari Digital Detox ke “Hapus Aplikasi”: Tren Retret Female Founder

Nah, di sinilah komunitas-komunitas perempuan di Jakarta mulai bergerak. Mereka nggak cuma ngasih saran motivasi, tapi bikin aksi nyata.

Motherverse Indonesia, misalnya, menggelar acara “Reset & Recharge” di Senopati buat para ibu modern, terutama mompreneur yang menjalani multiperan . Acaranya nggak main-main: ada sesi bersama psikolog klinis, sound healing, guided meditation, sampe self-care corner gratis buat cek tensi dan pijat . Tujuannya sederhana tapi dalam: ngasih ruang buat para ibu “berhenti sejenak dari rutinitas, memulihkan energi, serta kembali terhubung dengan diri sendiri” .

Pendiri Motherverse, Rani Sherly Fajrina dan Zilda Ayu Ramadia, yang juga founder Harada Communication, ngerti banget gimana rasanya jadi perempuan dengan multiperan. “Menjadi Ibu adalah anugerah terindah sekaligus peran yang paling menantang. Sebagai Mompreneur yang menjalani multiperan, kami memahami betapa menantangnya menyeimbangkan waktu dan tanggung jawab sehari-hari,” ujar Rani .

Ada juga Stellar Women, komunitas buat perempuan dengan tujuan—baik itu career woman, entrepreneur, creator, atau freelancer . Mereka punya program Self Starter Club yang ngajak perempuan evaluasi life-goals, networking, dan diskusi intimate . Founder-nya, Samira Shihab (CEO Tinkerlust), paham banget bahwa di tengah hiruk-pikuk Jakarta, perempuan butuh ruang buat berhenti dan berpikir.

Dan yang paling radikal: ada event “Digital Detox in the Sky” dari komunitas Jakarta Friends. Ini bukan cuma retret biasa. Ini no phones allowed—total! Peserta dikumpulin di rooftop café, diminta buat nggak pegang HP sama sekali selama acara berlangsung . Tujuannya: ngajak orang ngobrol beneran—nggak cuma basa-basi “kamu dari mana?” dan “kerja apa?”, tapi koneksi autentik .

Bayangin: di Jakarta yang notabene kota paling sibuk dan paling melek teknologi di Indonesia, ada orang-orang yang sengaja bayar dan dateng buat nggak pegang HP. Ini ironi sekaligus keberanian.

3 Studi Kasus: Female Founder yang Berani “Hapus Aplikasi”

1. Verina Triananda: Vakum 2 Bulan dan Kembali

Verina Triananda, seorang konten kreator, ambil keputusan ekstrem: vakum total dari dunia digital selama dua bulan. Penyebabnya? Burnout. Akumulasi rasa lelah dan resistensi tubuh akibat tekanan standar tinggi yang dia ciptakan sendiri .

“Mak ke sini, aku menetapkan standar atau ekspektasi yang lebih tinggi juga, ada pikiran bahwa aku sudah dua tahun ngonten, masa sih gini-gini aja, berarti aku harus bikin konten yang lebih bagus lagi,” ujarnya . Rasa jenuh ini bikin dia kehilangan gairah murni dalam menjalani hobi seperti membaca buku .

Apa yang dia temukan selama vakum? Kesadaran bahwa dia perlu berserah diri dan memperkuat hubungan spiritual untuk mendapatkan ketenangan sejati. “Di situ aku sadar bahwa aku emang perlu banget meminta kekuatan ke Tuhan, ke Allah, dan aku ngerasain sendiri ternyata aku jadi bisa lebih tenang dan lebih bisa melepaskan kekhawatiran,” katanya .

2. Cicilia Jöozher: Istirahat Itu Penting

Cicilia Jöozher, kreator konten lifestyle yang berbasis di Jogja, juga pernah ngalamin burnout dan memilih vakum cukup lama. “Istirahat itu penting. Kalau dipaksakan, hasilnya nggak maksimal,” tegasnya .

Dia ngakui bahwa saat burnout, dia nggak segan buat ngambil jeda: puasa media sosial, grounding, atau menikmati waktu sendiri dengan ngopi atau membaca buku . Ini sejalan dengan filosofinya: “Cintai diri sendiri dulu, baru orang lain. Kamu itu berharga” .

3. Nurhasanah (Octa), Poddium: Bertahan di Tengah Badai

Nurhasanah, co-founder Poddium, ngalamin sisi lain dari perjuangan jadi female founder: funding droughts dan burnout . Di podcast “Her Diary,” dia ngaku bahwa membangun startup digital literacy yang sekarang venture ke AI itu nggak semudah yang dibayangkan. “Dari bertahan di tengah badai pendanaan dan kelelahan mental, sampai belajar apa arti ketahanan yang sesungguhnya—percakapan ini mengupas tuntas di balik gemerlapnya dunia startup” .

Tips “Hapus Aplikasi” ala Female Founder Jakarta

Buat lo yang pengen nyoba—nggak harus jadi founder, cukup jadi manusia yang kecapekan sama layar—ini beberapa tips dari para praktisi dan komunitas:

1. Mulai dari yang Kecil, Jangan Langsung Ekstrem

Kamu nggak harus hapus semua aplikasi hari ini. Mulai dari matiin notifikasi yang nggak penting. Atau tentukan jam “bebas layar” setiap hari, misalnya 1 jam sebelum tidur .

2. Cari “Ruang Jeda” yang Nyata

Motherverse ngajarin kita bahwa me-time bukan egoisme, tapi kebutuhan . Cari ruang fisik buat berhenti—bisa di kafe sunyi, taman, atau bahkan kamar mandi. Yang penting lo beneran hadir di situ, bukan sambil scroll.

3. Ikut Komunitas yang Supportif

Stellar Women, Motherverse, Jakarta Friends—ini semua komunitas yang ngasih ruang aman buat perempuan berbagi dan bertumbuh . Nggak harus jadi member, cukup ikut satu event dan rasakan bedanya.

4. Praktikkan “Slow Morning”

Marissa Anita memulai hari dengan slow morning: memberi makan anjingnya, menikmati kopi tanpa gawai, baru kemudian bekerja atau syuting . Ini ritual sederhana yang bikin hari nggak langsung chaotic.

5. Catat 3 Hal yang Disyukuri

Marissa juga mempraktikkan ini: tulis tiga hal yang disyukuri setiap hari, beserta alasannya. Ini terinspirasi dari psikologi positif dan membantu melatih otak untuk fokus pada hal baik, bukan kecemasan .

6. Siapkan “Fase Withdrawal”

Kalau lo mau ikut retret digital detox, siapin mental: hari pertama biasanya panik. Tangan lo bakal refleks nyari HP. Itu normal. Lewati aja, nanti hari kedua dan ketiga lo bakal mulai tenang .

Common Mistakes: Kesalahan yang Sering Dilakuin

#1: Nggak Siap dengan “Kekosongan”
Banyak yang dateng ke retret digital detox dengan ekspektasi bakal ada sesuatu terjadi. Padahal, yang ditawarkan adalah ketiadaan sesuatu. Kalau lo nggak siap ketemu diri sendiri—tanpa distraksi—lo bakal gagal total .

#2: Masih Nyelipin HP “Just in Case”
Ini paling sering terjadi. Lo bilang mau detox, tapi masih bawa HP cadangan atau nyari WiFi diam-diam. Hasilnya? Pengalaman gagal total. Konsep detox itu commitment, bukan setengah-setengah .

#3: Mengharapkan Hiburan
Ini bedanya antara staycation biasa dan digital detox retreat. Yang terakhir bukan tentang hiburan, tapi empty space—ruang kosong buat otak lo beristirahat. Kalau lo dateng dengan ekspektasi “ada apa aja?” lo bakal kecewa .

#4: Menjadikan Ini Konten
Ironisnya, banyak orang gagal detox karena sibuk “mengabadikan ketenangan.” Mereka foto-foto, bikin story, video—padahal esensi detox adalah tidak memproduksi konten. Kalau lo masih sibuk foto, lo belum detox .

Kesimpulan: Ironi dan Keberanian di Era Hiperkoneksi

Ada sesuatu yang lucu sekaligus menyedihkan ketika seorang female founder di Jakarta rela merogoh kocek puluhan juta dan menghapus aplikasi untuk merasakan ketenangan—ketenangan yang seharusnya gratis, ketenangan dari kehidupan yang tidak terus-menerus terganggu .

Tapi di balik ironi itu, ada keberanian. Keberanian untuk berhenti. Keberanian untuk mengakui: “Gue lelah.” Keberanian untuk memilih diri sendiri di tengah dunia yang terus menuntut.

Ini bukan soal anti-teknologi. Ini soal keseimbangan. Para female founder ini bukan menolak digitalisasi—mereka membangun bisnis di dalamnya. Tapi mereka sadar: untuk bisa terus berkarya, mereka butuh rebut kembali fokus hidup. Dan kadang, cara paling berani untuk maju adalah dengan berhenti sejenak.

Seperti kata Irma Sustika, pendiri Womenpreneur: “Perempuan hebat itu bukan hanya perempuan karier dan ibu rumah tangga saja, tetapi perempuan yang bisa jadi panutan dan membagikan manfaat kepada orang lain” . Dan untuk bisa memberi manfaat, pertama-tama kita harus sehat—secara fisik, mental, dan spiritual.

Jadi, besok kalau lo lagi kecapekan sama notifikasi, coba deh tanya diri lo sendiri: “Kapan terakhir kali gue bener-bener nggak tersedia?” Jawabannya mungkin bikin lo diam. Dan kadang, diam itulah yang paling kita butuhkan

sp0Idt62