H1: Financial Feminism 2025: Kenapa Investasi dan Melek Duit Itu Bentuk Perlawanan Perempuan Zaman Now
Kita udah berani speak up di ruang rapat, unjuk rasa di jalan, sampai debat sama om-om kolot di media sosial. Tapi ada satu medan perlawanan yang sering banget kita lupa. Dompet kita sendiri.
Iya, serius. Financial feminism itu nggak cuma soal mandiri secara ekonomi. Ini soal sadar bahwa uang itu suara. Dan dengan menguasai literasi keuangan, kita lagi merebut kembali kekuasaan untuk nentuin narasi hidup kita sendiri. Bukan cuma numpang lewat.
Dari “Aku Nggak Jago Matematika” ke “Aku yang Pegang Kendali”
Pernah nggak sih denger—atau bahkan ngomong—kalimat “Ah, gue mah nggak ngerti urusan saham, ribet”? Atau ngerasa itu urusannya laki-laki? Itu adalah bias yang selama ini kita telan mentah-mentah.
Financial feminism dimulai dari hal kecil: berani bilang, “Aku mau belajar.” Karena ketika lo ngerti cara uang bekerja, lo nggak lagi jadi objek. Lo jadi subjek yang punya kendali penuh.
- Studi Kasus: Clara, 28, yang dulu gajinya langsung ludes buat bayar kos dan lifestyle. Setelah ikut komunitas investasi perempuan, dia mulai nabung 10% dari gajinya buat beli reksa dana. Dua tahun kemudian, dia berani nolak tawaran kerja yang toxic karena punya “dana darurat” yang bisa menopang hidupnya 6 bulan ke depan. Itu kekuatan nyata.
Uang = Opsi. Semakin Banyak Uang, Semakin Banyak Pilihan Hidup
Bayangin:
- Bisa bilang “tidak” pada hubungan yang nggak sehat, karena lo financially capable.
- Bisa nemenin anak tumbuh besar tanpa harus khawatir kehilangan penghasilan.
- Bisa bantu orang tua tanpa minta izin siapapun.
- Bisa mendanai project yang lo peduli, dari bikin komunas sampai bikin bisnis.
Itu semua bukan mimipi. Itu adalah konsekuensi logis dari punya literasi keuangan yang baik. Uang itu seperti kursi di meja kekuasaan. Kalau lo nggak punya, ya lo cuma bisa nonton dari luar.
Kesalahan Umum yang Masih Sering Kita Lakuin
- Menyerahkan Urusan Keuangan ke Pasangan atau Orang Tua: Ini adalah bentuk giving up power yang paling halus. “Ah, dia yang ngerti.” No. Mulai sekarang, harus ngerti bareng.
- Takut Gagal dan Rugi: Investasi memang ada risikonya. Tapi risiko terbesar adalah nggak investasi sama sekali—dan ketinggalan pertumbuhan kekayaan seumur hidup.
- Mikir Investasi Butuh Uang Banyak: Salah. Lo bisa mulai dari Rp 100 ribu per bulan lewat aplikasi investasi. Yang penting mulai aja dulu.
Gimana Caranya Mulai Jadi Financial Feminist?
- Mulai dari yang Paling Dasar: Track Pengeluaran. Sebulan penuh, catat SEMUA yang lo beli. Dari kopi sampai bayar listrik. Lo bakal kaget sendiri nemuin “kebocoran” duit yang nggak perlu.
- Buat Dana Darurat Dulu, Baru Investasi. Idealnya, dana darurat itu 6-12x pengeluaran bulanan. Taruh di rekening terpisah yang nggak gampang keambil. Ini tameng pertama lo.
- Cari Komunitas. Sekarang banyak banget komunitas investasi perempuan atau grup financial literacy di Instagram dan Telegram. Belajar sama-sama itu rasanya lebih aman dan nggak judgemental.
- Ambil Satu Jenis Investasi dan Pelajari Dalem-Dalem. Jangan serakah. Mau coba reksa dana? Pelajari dulu selama sebulan. Baca, tanya, diskusi. Baru deploy uang. Setelah confident, baru ekspansi ke instrumen lain.
Data yang Bikin Semangat
Survei di salah satu platform investasi nunjukkin bahwa portofolio investasi yang dikelola perempuan ternyata pertumbuhannya lebih konsisten dan lebih tahan banting di saat pasar volatile dibandingkan yang dikelola laki-laki. Kenapa? Karena perempuan cenderung riset lebih mendalam dan nggak grha-instan.
Kesimpulan: Dompetmu adalah Benteng Terakhirmu
Jadi, masih ragu buat ambil kendali?
Financial feminism bukan tentang jadi kaya raya dalam semalam. Ini tentang perlahan-lahan membangun kekuatan untuk mengatakan “tidak” pada segala hal yang nggak lo mau, dan “ya” pada segala hal yang bikin lo berkembang.
Ini adalah perjuangan yang konkret. Dimana pertempurannya terjadi setiap kali lo memutuskan nabung ketimbang beli barang diskon, setiap kali lo baca prospektus sebelum investasi, dan setiap kali lo ngobrol serius sama pasangan soal perencanaan keuangan keluarga.
Uang adalah suara. Dan dengan menguasai literasi keuangan, kita memastikan suara kita didengar—tidak hanya di rumah sendiri, tetapi juga di dunia. So, sudah siap menjadikan dompetmu sebagai alat perlawanan?