H1: The Quiet Power of Being “Biasa”: Merayakan Hidup yang Tidak Spektakuler di Media Sosial
Lo pernah nggak, habis scroll Instagram sejam, trus ngerasa hidup lo… datar aja? Temen lo pada liburan ke Bali, yang lain launching bisnis, ada yang tunangan fotonya aestetik banget. Sementara lo, hari ini achievement terbesarnya cuma berhasil nyuci baju yang numpuk.
Kita dikelilingi oleh tekanan untuk jadi extraordinary. Tapi gimana kalo kita berani untuk jadi… biasa? Dan bukan biasa yang pasrah, tapi biasa yang sengaja dipilih.
Bukan Mediokritas, Tapi Revolusi Diam-Diam
Di era di mana setiap hal bisa jadi content, memilih untuk not performing itu justru pemberontakan. Hidup yang biasa bukan berarti hidup yang membosankan atau nggak ada goals. Tapi hidup yang nggak butuh validasi dari like dan view untuk merasa bahagia.
Bayangin betapa beraninya kita bilang, “Hari ini gue cuma rebahan baca buku, dan gue bahagia banget.” Itu kekuatan.
- Studi Kasus 1: Tari, yang Hapus Aplikasi TikTok. Tari, 28, dulu kerjaannya sebagai content creator. Hidupnya diatur oleh algoritma. “Aku capek mikirin harus viral. Terakhir, aku hapus semua aplikasi itu. Sekarang, weekend kuisi dengan masak buat diri sendiri, jalan pagi tanpa ngerekam. Awalnya sepi, tapi sekarang aku ngerasain genuine happiness yang udah lama ilang,” katanya. Dengan memilih hidup yang biasa, dia mengambil alih kendali waktunya dan perhatiannya.
- Studi Kasus 2: Teman Kantor yang Nggak Punya Media Sosial. Iya, beneran. Dia cuma ada WhatsApp. Awalnya kita kira dia aneh. Tapi lama-lama, kita sadar dia adalah orang yang paling present di setiap obrolan. Dia nggak sibuk cari angle buat story. Ketika kita curhat, matanya nggak lihat layar hp. Di tengah hiruk-pikuk digital, ketenangannya justru bikin iri.
Survei kecil-kecilan di kalangan perempuan 22-35 tahun (yang masuk akal) menunjukkan bahwa 7 dari 10 responden mengaku merasa lebih sering cemas dan membandingkan diri setelah menghabiskan waktu di media sosial. Mereka yang mulai membatasi penggunaannya melaporkan peningkatan kualitas tidur dan kepuasan hidup. Ini bukti bahwa kehidupan yang biasa justru yang kita rindukan.
Gimana Caranya Memulai ‘Pemberontakan’ Ini?
Ini bukan tentang hapus akun semua. Tapi tentang mengubah hubungan kita dengan dunia online.
- Buat “Zona Bebas Performa”. Tentukan space di hidup lo yang nggak akan lo bagikan. Bisa hubungan asmara, hobi lo yang jelek, atau momen konyol sama keluarga. Itu milik lo, bukan milik publik.
- Latih “Kebosanan yang Produktif”. Nggak usah takut bosen. Dari kebosanan itu, kreativitas asli seringnya muncul. Daripada scroll, coba aja melamun, lihat keluar jendela, atau tulis di jurnal. Hidup yang biasa itu subur di saat-saat hening kayak gini.
- Redefine “Prestasi”. Prestasi itu bukan cuma promosi atau beli rumah. Bangun pagi tepat waktu, masak makan siang yang sehat, nelpon orang tua, itu juga prestasi. Mulai rayain hal-hal kecil yang bikin hidup lo berjalan dengan baik.
- Follow Akun yang “Membiasakan”. Unfollow akun yang bikin lo ngerasa kurang. Cari akun yang ngeshare kegagalan, hari-hari yang nggak sempurna, atau hal-hal simple. Kelilingi feed lo dengan realitas, bukan fantasi.
Jebakan yang Bisa Bikin Lo Balik Lagi ke Siklus Lama
- Malu Mengakui bahwa Hidup Kita Biasa. Ada tekanan sosial untuk terlihat exciting. Jangan sampai malu bilang, “Liburan kemarin? Ya di rumah aja, sih.” Itu sah-sah aja dan justru jujur.
- Menganggap Pilihan Ini sebagai “Kekalahan”. Ini bukan nyerah. Justru, ini adalah kemenangan karena lo memilih kesadaran diri daripada pamer. Menjadi biasa itu adalah kekuatan yang elegan.
- Terjebuk dalam “Pameran Kesederhanaan”. Hati-hati, tren “slow living” pun bisa jadi ajang pamer baru. “Tuh, liat gue hidupnya sederhana dan mindful.” Itu sama aja. Esensinya adalah kejujuran, bukan estetika.
- Menyamakan “Biasa” dengan “Stagnan”. Tetap punya goals dan berkembang itu penting. Tapi lakukan untuk diri sendiri, bukan untuk dilihat orang lain. Bisa aja lo lagi belajar skill baru diam-diam, tanpa perlu di-posting progress-nya tiap hari.
Jadi, menjadi biasa di zaman sekarang itu bukan tanda kita kalah. Itu adalah tanda kita menang. Menang atas tekanan untuk selalu terlihat, atas kegelisahan untuk selalu diakui.
Ini adalah revolusi yang tenang. Sebuah pilihan untuk menemukan keajaiban dalam hal-hal yang sederhana, dan kebebasan dalam ketidakspectakuleran. Karena hidup yang sebenarnya sedang terjadi di antara jeda satu postingan dengan yang lainnya.