Viral ‘Salary Confession’ Ternyata Toxic: Studi 2025 Ungkap Wanita yang Buka Gaji Justru Alami ‘Income Guilt’ & Tekanan Sosial Tak Terduga
Kamu pasti liat kan, tren salary confession di media sosial? Postingan kartun lucu, “Aku [job title], umur X, gaji Y.” Tujuannya mulia: transparansi, bantu sesama, lawan ketimpangan gaji. Tapi pernah nggak, lo scroll terus ngerasa… aneh? Kayak ada yang nggak beres. Nah, riset 2025 baru aja nge-confirm rasa nggak enak itu. Ternyata, bagi banyak wanita profesional, buka-bukaan gaji justru bikin mereka terjebak dalam perangkap psikologis baru. Bukan rasa senasib yang muncul, tapi rasa bersalah yang dalam dan tekanan sosial yang bikin mereka justru menarik diri.
Ini perangkap transparansi. Di mana gerakan yang ingin membebaskan, malah menciptakan rantai baru dari rasa bersalah dan perbandingan yang nggak sehat.
Ketika Angka di Layar Berubah Jadi Alat Ukur Diri
Idenya bagus: dengan tahu angka, kita bisa nego gaji, paham value diri, dan melawan bias gender. Tapi di dunia nyata yang kompleks, angka itu jatuhnya nggak cuma jadi data. Dia jadi scorecard. Dan bagi wanita — yang seringkali sudah terbebani beban emosional dan ekspektasi sosial — kartu nilai ini jadi beban ganda.
- Studi Kasus 1: “The Overachiever’s Guilt” – Ketika Gaji Tinggi Bikin Dikucilkan. Maya, 28, konsultan di perusahaan global. Gajinya di atas rata-rata untuk usianya. Dia ikut tren salary confession di LinkedIn dengan niat baik. Tapi responnya nggak kayak yang dia bayangin. Bukan dukungan. Teman dekat dari kuliah yang kerja di NGO mulai keep distance, obrolan jadi canggung. Keluarga besar mulai komentar, “Wah, pasti sekarang bisa banyak kasih ke orang tua ya,” atau “Kok adik kamu yang guruan nggak dibantuin?” Maya malah ngerasa bersalah. Bersalah karena sukses, bersalah karena dianggap ‘sombong’, bersalah karena nggak bisa memenuhi ekspektasi baru sebagai ‘ATM keluarga’. Tekanan sosial ini bikin dia justru menutup diri dan nggak lagi mau bicara soal finansial sama siapa-siapa.
- Studi Kasus 2: “The Underpaid’s Shame Spiral” – Ketika Transparansi Memperparah Rasa Tidak Cukup. Sari, 25, bekerja di industri kreatif dengan gaji pas-pasan. Dia baca confession teman seumuran di industri tech yang gajinya 3x lipat. Alih-alih termotivasi, Sari malah ngerasa makin kecil dan gagal. “Apa yang salah sama aku?” Dia mulai membandingkan life choices-nya, latar belakang pendidikannya, bahkan kepribadiannya. Rasa bersalah di sini berubah arah: rasa bersalah karena memilih jalan yang ‘salah’, karena nggak cukup ambisius. Padahal, dia kerja keras dan mencintai pekerjaannya. Data dari platform Wellbeing at Work menunjukkan 68% responden wanita di usia 22-30 merasa tingkat kecemasan finansial dan imposter syndrome mereka MALAH meningkat setelah terpapar rutin dengan konten salary confession.
- Studi Kasus 3: “The Friendship Tax” – Ketika Selisih Angka Merusak Dinamika Pertemanan. Dulu, Rina dan Tari diskusi soal kerjaan, cita-cita, dan keluh kesah dengan terbuka. Setelah Tari tahu gaji Rina jauh lebih besar lewat sebuah forum anonim, dinamikanya berubah. Tari mulai nggak nyaman diajak makan di resto yang agak mahal. Rina jadi overthinking tiap mau traktir atau kasih hadiah, takut dianggap pamer. Percakapan jadi penuh perhitungan. Transparansi yang dipaksakan itu justru bikin isolasi sosial. Mereka nggak lagi ngobrol sebagai sahabat, tapi sebagai dua angka di spreadsheet yang berbeda.
Gimana Mengatasi ‘Income Guilt’ & Manfaatkan Informasi dengan Sehat?
- Pisahkan ‘Data’ dari ‘Identitas’. Ingatkan diri sendiri: gaji lo adalah hasil dari ribuan variabel (industri, timing, negosiasi, kebutuhan perusahaan), BUKAN nilai akhir dari harga diri lo sebagai manusia atau perempuan. Angka itu data untuk keputusan karier, bukan report card hidup.
- Buat Batasan Informasi yang Jelas. Lo nggak wajib buka gaji ke semua orang. Bisa pilih medium yang lebih privat (forum khusus dengan pseudonym, grup kecil terpercaya). Atau, lo bisa share range gaji tanpa angka spesifik. Kuncinya: lo yang pegang kendali siapa yang boleh tahu dan dalam konteks apa.
- Fokus pada ‘Value Creation’, Bukan ‘Number Comparison’. Alihkan percakapan dari “Gue digaji X” ke “Gue berkontribusi Y, dan itu berdampak Z.” Dengan fokus pada nilai yang diciptakan, lo membangun argumen untuk naik gaji tanpa terjebak dalam perbandingan angka kosong yang bikin bersalah.
- Beri Konteks, Selalu. Kalau mau share (untuk membantu orang lain), sertakan konteks: lokasi, tahun pengalaman, company size, benefit lain. “Gaji Rp 15 juta di startup series B Jakarta sebagai PM dengan 4 tahun pengalaman.” Ini lebih membantu dan mengurangi potensi perbandingan yang apple-to-orange.
Kesalahan yang Memperdalam Perangkap Ini
- Menganggap Rendahnya Gaji sebagai Kegagalan Pribadi. Industri, budaya perusahaan, dan ekonomi makro punya pengaruh besar. Nggak semua sektor dibayar tinggi. Menyalahkan diri sendiri hanya akan menambah rasa bersalah yang nggak produktif.
- Membandingkan ‘Highlight Reel’ dengan Realita Lo. Yang di-post di salary confession seringkali adalah angka terbaik dari orang yang paling percaya diri. Lo nggak liat struggle, jam lembur, atau trade-off-nya. Perbandingan ini nggak adil dan pasti bikin sakit.
- Terpaksa Ikut Tren karena FOMO. Ngerasa wajib post karena semua orang melakukannya, padahal nggak nyaman. Itu melanggar batas diri. Lo nggak perlu jadi martir untuk gerakan transparansi jika mental lo belum siap hadapi konsekuensi sosialnya.
- Menyamakan ‘Harga Diri’ dengan ‘Harga Pasar’. Ini jebakan terbesar. Harga pasar lo bisa naik turun. Tapi harga diri lo, sebagai perempuan yang punya integritas, empati, dan kecerdasan, itu tetap dan nggak ternilai. Jangan sampai angka di slip gaji meragukan itu.
Kesimpulan: Solidaritas Sejati Bukan Tentang Membuka Buku Tabungan, Tapi Tentang Membuka Ruang Aman
Gerakan salary confession lahir dari niat baik. Tapi kita lupa, ketimpangan itu nggak cuma soal angka di rekening. Dia juga soal beban mental, ekspektasi keluarga, dan kerapuhan hubungan sosial yang sudah rentan.
Transparansi tanpa empati, konteks, dan dukungan psikologis hanyalah sebuah perangkap. Dia mengubah solidaritas jadi ajang perlombaan, dan perjuangan kolektif jadi penderitaan individual yang dipenuhi rasa bersalah.
Solidaritas sejati antar wanita profesional mungkin bukan lagi tentang berteriak angka kita ke publik. Tapi tentang menciptakan ruang privat yang aman untuk saling bertanya, “Gimana kabarmu really? Apa yang kamu butuhkan untuk maju? Bagaimana aku bisa bantu tanpa membuatmu merasa kurang?”
Karena melawan ketimpangan itu soal mengangkat bersama. Bukan tentang siapa yang sudah di puncak, dan siapa yang tersisa di bawah sambil memandang dengan perasaan bersalah.