Estetika ‘Post-Perfect’: Saat Perempuan Urban Jakarta Mulai Meninggalkan Filter AI dan Merayakan Pesona Kamera ‘Damaged Lens’ di Media Sosial
Lo pernah nggak, buka Instagram terus tiba-tiba ngerasa semua orang mukanya sama? Hidung mancung. Kulit mulus. Rahang tajam. Semua kayak keluar dari cetakan yang sama.
Gue pernah. Dan jujur, itu bikin capek.
Tapi ada yang berubah. Perlahan-lahan, banyak perempuan urban Jakarta mulai melakukan hal yang dulu nggak terpikirkan: mereka berhenti nge-filter. Bukan karena nggak bisa. Tapi karena mereka udah muak.
Ketika “Sempurna” Jadi Terlalu Murah
Adam Mosseri, kepala Instagram, bilang sesuatu yang cukup menohok di awal 2026. Katanya, era feed Instagram yang rapi dan penuh polesan udah mati. “Citra yang flattering itu murah untuk diproduksi dan membosankan untuk dikonsumsi,” tulisnya .
Dia nggak salah.
Dulu, foto yang bagus butuh usaha. Butuh lighting yang tepat. Butuh angle yang pas. Butuh editing yang teliti. Sekarang? AI bisa bikin semua itu dalam hitungan detik. Kulit mulus? Otomatis. Cahaya sempurna? Sekali klik.
Ketika semua bisa sempurna, kesempurnaan jadi nggak ada artinya lagi. Dan justru di situlah muncul perlawanan.
Kamera “Damaged Lens”: Estetika yang Sengaja Rusak
Ada tren yang lagi naik di kalangan perempuan muda Jakarta. Namanya kamera “damaged lens”—atau lebih tepatnya, kamera yang punya “cacat” optik yang justru bikin hasil fotonya terasa lebih hidup.
Ini bukan kamera rusak beneran. Ini kamera digital jadul. Kamera film. Atau bahkan smartphone lama yang lensanya udah lecet. Yang hasilnya blur di pinggir. Ada light leak. Warnanya aneh. Fokusnya nggak selalu tepat.
Dan justru itu yang dicari.
Fenomena ini sebenernya udah terjadi di Korea Selatan sejak pertengahan 2026. Generasi muda di sana mulai “berjalan mundur” di era resolusi tinggi. Mereka sengaja nyari foto dengan kualitas rendah. Buram. Bintik-bintik. Grainy. “Ketidaksempurnaan itu sendiri dikonsumsi sebagai individualitas,” tulis Daum, salah satu media Korea .
Di Jakarta, tren ini mulai kelihatan. Kamera digital bekas di marketplace mulai diburu. Yang cari bukan cuma fotografer. Tapi perempuan muda yang pengen feed Instagram-nya nggak “kayak semua orang.”
Tiga Cerita dari Feed yang Berubah
Cerita pertama: Rani, 27 tahun, desainer grafis.
Rani dulu punya feed Instagram yang bisa dibilang “perfect.” Warna-warnanya konsisten. Grid-nya rapi. Semua foto di-edit sampai detail terkecil.
“Aku punya preset. Aku punya jadwal posting. Aku punya spreadsheet buat tracking engagement,” ceritanya.
Sekarang? Feed-nya penuh foto blur. Foto yang diambil pakai kamera digital jadul yang dia beli Rp350 ribu di marketplace. Foto yang kadang over-exposed. Foto yang kadang cuma nge-show lantai atau langit-langit.
“Awalnya aku takut engagement-nya turun. Tapi justru naik. Orang DM-in aku, nanya ‘kamera apa itu? kok estetik banget?'”
Cerita kedua: Sari, 24 tahun, content creator.
Sari viral bulan lalu karena video TikTok-nya yang judulnya “Aku berhenti pakai AI buat foto dan ini yang terjadi.”
Di video itu, dia nunjukin perbandingan side-by-side. Foto lama: kulitnya mulus banget, hidungnya mancung, rahangnya tajam. Foto baru: kulitnya ada bekas jerawat, ada kantung mata, rambutnya sedikit kusut.
“Yang lama itu bukan aku. Yang baru ini aku. Dan ternyata orang lebih suka yang baru.”
Komentar-komentarnya penuh dukungan. “Akhirnya ada yang jujur,” tulis salah satu. “Aku juga capek lihat semua orang perfect,” tulis yang lain.
Cerita ketiga: Maya, 31 tahun, pekerja kantoran.
Maya nggak selebgram. Nggak punya banyak followers. Tapi dia punya kebiasaan yang dulu bikin dia insecure: setiap kali mau posting, dia selalu nge-edit dulu. Minimal 20 menit. Maksimal bisa sejam.
“Aku nggak bisa posting foto tanpa nge-filter. Rasanya kayak ada yang salah kalau nggak.”
Sekarang, Maya punya aturan baru. Satu foto sehari. Tanpa filter. Tanpa edit. Kalau nggak suka hasilnya, ya udah. Nggak diposting. Besok coba lagi.
“Kedengerannya sepele. Tapi buat aku, itu revolusi.”
Kenapa Ini Terjadi Sekarang?
Ada beberapa alasan yang saling nyambung.
Pertama, kelelahan filter. Istilah “stanchezza da filtri”—kelelahan filter—udah mulai muncul di diskusi soal Gen Z dan media sosial. Bertahun-tahun pakai filter yang bikin semua orang kelihatan sama, akhirnya orang sadar: ini nggak bikin bahagia. Ini bikin capek .
Kedua, AI bikin semuanya jadi palsu. Ketika AI bisa generate wajah yang bahkan lebih “perfect” dari manusia, kesempurnaan jadi kehilangan maknanya. Kalau semua bisa dibuat, apa yang masih asli?
Mosseri sendiri ngaku: “Di dunia di mana AI bisa generate gambar tanpa cacat, tampilan profesional justru jadi tanda bahaya” .
Ketiga, masalah mental yang nyata. Sebuah studi di Vietnam nunjukin gimana perempuan muda yang terbiasa pakai AI buat edit foto akhirnya ngerasa hampa sama penampilan asli mereka. “Makin sering nge-filter, makin susah nerima wajah sendiri,” kata seorang psikolog .
Ini bukan cuma soal foto. Ini soal identitas.
Keempat, generasi yang lebih sadar. Penelitian dari Australia nunjukin Gen Z adalah generasi pertama yang secara aktif “melawan” ketergantungan sama HP dan media sosial. “Mereka sangat sadar akan kebutuhan buat nemuin keseimbangan dalam hidup,” kata Dr. Jo Orlando, peneliti digital wellbeing .
Yang Perlu Diwaspadai
Tapi jangan salah paham. Tren ini juga punya sisi gelap.
Pertama, “raw” bisa jadi filter baru. Mosseri sendiri udah memperingatkan: AI bakal makin pinter bikin foto yang keliatan “jelek tapi asli.” Jadi ketika lo pikir lo lagi ngeliat foto authentic, bisa jadi itu cuma AI yang nyamar .
Kedua, jangan romantisasi “jelek”. Ada beda antara foto authentic dan foto yang sengaja dibikin jelek biar keliatan authentic. Yang pertama jujur. Yang kedua cuma pindah panggung.
Ketiga, konteks tetap penting. Foto blur di feed mungkin oke buat personal branding. Tapi kalau lo profesional yang butuh foto portfolio? Jangan ikut-ikutan. Estetika bukan aturan universal.
Keempat, jangan lupa bahwa semua ini pilihan. Kalau lo masih nyaman pakai filter, nggak apa-apa. Yang penting lo sadar kenapa lo pakai. Bukan karena takut. Bukan karena tekanan. Tapi karena lo memang mau.
Tips Praktis: Mulai dari Mana?
- Coba “no filter day” seminggu sekali. Posting satu foto tanpa edit. Rasain gimana reaksinya. Rasain gimana perasaan lo.
- Beli kamera jadul murah. Nggak perlu mahal. Kamera digital bekas Rp200-500 ribu udah cukup. Yang penting lo mulai ngeliat dunia lewat lensa yang nggak “sempurna.”
- Tanya sebelum posting: “Ini gue banget nggak?” Kalau jawabannya “nggak,” mungkin foto itu nggak perlu diposting.
- Follow akun yang nggak perfect. Kurasi feed lo. Kalau timeline lo penuh orang yang perfect, lo bakal ngerasa harus perfect juga. Ganti.
- Ingat: foto bukan harga diri. Engagement bukan ukuran nilai lo. Dan filter bukan penentu apakah lo “cukup.”
Jadi, Apa Artinya Semua Ini?
Ada satu hal yang perlu kita sadari. Estetika “post-perfect” bukan cuma soal foto. Ini soal kebebasan.
Kebebasan buat nggak harus sempurna. Kebebasan buat nggak harus tampil kayak orang lain. Kebebasan buat jadi diri sendiri, dengan segala blur dan cacatnya.
Dalam dunia yang makin penuh AI, yang makin susah dibedain mana asli mana palsu, keaslian jadi barang langka. Dan barang langka selalu mahal.
Jadi ketika lo posting foto yang nggak sempurna, lo bukan cuma lagi ikut tren. Lo lagi ngelawan. Lo lagi bilang: “Gue manusia. Dan ini buktinya.”
Kedengerannya berlebihan? Mungkin. Tapi coba pikirkan lagi.
Kalau semuanya bisa dibuat sempurna oleh mesin, apa yang tersisa yang bikin kita manusia?
Jawabannya: ketidaksempurnaan kita.