Foya-foya di 20-an, Hidup Mapan di 30-an? Tren ‘Reckless Spending Era’ yang Bikin Banyak Wanita Sadar

Last modified date

Lo inget nggak rasanya: gaji pertama 4 juta. Beli sepatu 800 ribu. Tas 1,2 juta. Makan di kafe 150 ribu sekali duduk. Terakhir bulan, lo makan indomie.

Gue juga. Banget.

Dulu gue pikir itu bodoh. Sekarang? Gue bilang itu kuliah.

Kuliah mahal. Tapi penting.

Namanya reckless spending era. Fase di usia 20-an di mana lo belanja tanpa mikir panjang. Ikut tren. Pengen terlihat sukses sebelum benar-benar sukses.

Tapi lalu di usia 30-an, lo sadar. “Oh, dulu gue foya-foya. Tapi sekarang gue mapan karena dari situ gue belajar.”

Artikel ini bukan buat nyeselin lo. Tapi buat ngasih perspektif barupengalaman mahal itu bukan dosa. Itu biaya kuliah yang membentuk lo sekarang.

Reckless Spending Era Itu Apa? (Definisi dari Anak Muda untuk Anak Muda)

Lo pasti liat temen lo di Instagram: liburan ke Bali, staycation di hotel mahal, beli skincare 500 ribuan, padahal gajinya UMR.

Lo mikir: “Iri. Tapi dia pasti boncos.”

Iya, dia boncos. Tapi dia sadar kok. Dan itu proses.

Reckless spending era adalah masa di mana lo belajar batasan finansial dengan cara jatuh dulu. Bukan dengan baca buku. Bukan dengan saran orang tua. Tapi dengan rasain sendiri: “Oh, kalau gue beli ini, akhir bulan gue nggak bisa bayar cicilan.”

Itu pahit. Tapi itu efektif.

Dan tren ini lagi viral di kalangan wanita early 20-an. Bukan karena mereka bangga boros. Tapi karena mereka jujur: “Gue dulu kayak gitu. Tapi sekarang gue berubah. Dan gue nggak nyesel karena dari situ gue belajar.”

Angka yang Bikin Lo Nggak Sendirian (dan Nggak Separah Itu)

Sebuah survei dari Female Finance Collective (2025) terhadap 3.000 wanita usia 25-35 tahun:

  • 84% mengaku pernah melakukan pembelian impulsif di usia 20-23 tahun (minimal 3 kali setahun).
  • 67% memiliki utang kartu kredit di usia 20-an (kebanyakan untuk fashion, skincare, atau traveling).
  • Tapi 72% dari mereka yang pernah boros sekarang (di usia 30-an) memiliki manajemen keuangan yang lebih baik daripada teman sebayanya yang nggak pernah boros.

Iya. Yang dulu boros, sekarang lebih pinter ngatur duit.

Kenapa? Karena mereka udah ngerasain konsekuensinya. Mereka udah nangis pas liat tagihan. Mereka udah dikejar-kejar debt collector (atau minimal dikejar-kejar ibu mereka).

Pengalaman itu guru terbaik. Dan harganya mahal. Tapi worth it.

Kasus #1: Sinta, 26 tahun (Jakarta) – Dulu beli skincare 2 jutaan, sekarang punya usaha skincare sendiri

Sinta dulu crazy soal skincare. Serum. Moisturizer. Sunscreen. Masker. Semua yang viral, dia beli.

“Gue habis 2-3 juta sebulan cuma buat muka. Gaji gue 5 juta. Sisanya? Utang ke temen.”

Tapi Sinta belajar dari situ. Dia mulai baca ingredients. Dia belajar mana yang beneran bagus dan mana yang cuma marketing.

“Gue sadar: gue nggak butuh 20 produk. Gue cuma butuh 5 produk yang beneran cocok. Dan gue bisa bikin sendiri.”

Sekarang Sinta (26 tahun) punya usaha skincare kecil-kecilan. Produknya cuma 3 varian. Tapi laku keras di circle-nya.

“Kalau dulu gue nggak foya-foya beli skincare mahal, gue nggak bakal tahu market-nya kayak gimana. Pengalaman boros itu jadi bekal bisnis gue sekarang.

Jadi, boros itu investasi? Iya. Tapi investasi pengetahuan, bukan aset.

Kasus #2: Tari, 28 tahun (Bandung) – Dulu utang traveling ke mana-mana, sekarang jadi travel blogger yang dibayar

Tari dulu gila traveling. Setiap bulan ada aja tiket pesawat. Hotel. Makanan. Oleh-oleh.

“Gue pake kartu kredit abu-abu (kartu kredit punya ortu, tapi gue bayar sendiri). Tagihan gue pernah tembus 7 juta. Gue nangis.”

Tapi Tari ngerekam semua perjalanannya. Posting di Instagram. Blog. TikTok.

“Gue nggak pikir itu bakal jadi karir. Gue cuma suka traveling dan suka cerita.”

Ternyata, audience-nya ngeh. “Konten lo jujur. Lo cerita budget breakdown-nya. Lo cerita gagal juga.”

Sekarang Tari (28 tahun) jadi travel blogger dengan 200 ribu followers. Dia dibayar buat traveling.

“Kalau dulu gue nggak ngutang buat ke mana-mana, gue nggak bakal punya portofolioUtang itu biaya kuliah gue.

Tapi jangan salah. Tari nggak nyuruh lo ngutang. Dia cuma bilang: kalau lo udah terlanjur, jangan nyesel. Manfaatin.

Kasus #3: Rere, 30 tahun (Surabaya) – Dulu beli tas branded dengan bonus cicilan 12 bulan, sekarang financial planner

Rere dulu korban marketing. “Beli tas 5 juta, cicilan 500 ribu per bulan.”

“Gue pikir ‘wah, murah’. Gue lupa itung totalnya: 6 juta (plus bunga).”

Rere punya 3 tas dengan skema yang sama. Total utang 18 juta. Belum skincare. Belum sepatu.

“Gue down banget. Gue mikir ‘gue bodoh’.”

Tapi Rere belajar. Dia baca buku finansial. Ikut workshop. Pelan-pelan lunasin utang.

“Prosesnya 2 tahun. Sakit. Tapi gue ngerti sekarang: bunga itu musuhCicilan itu jebakan.”

Sekarang Rere (30 tahun) kerja sebagai financial planner di sebuah konsultan. Dia yang ngajarin orang lain cara ngatur duit.

“Klien gue bilang ‘kak, kok pinter banget?’ Gue jawab: ‘Karena gue pernah bodoh.’

Authentic. Dan kliennya percaya.

Tapi Bukannya Boros Itu Salah? (Jawaban jujur: Iya, tapi nyesel juga nggak guna)

Gue nggak bakal bilang boros itu baik. Boros itu risky. Boros itu bisa bikin lo bangkrut.

Tapi kalau lo udah terlanjur—lo udah foya-foya, udah utang, udah nangis—jangan buang waktu buat nyesel.

Nyesel itu nggak menghasilkan apa-apa. Refleksi iya. Belajar iya. Tapi nyesel? Cuma buang energi.

Reckless spending era bukan tentang membenarkan perilaku boros. Tapi tentang mengakui bahwa pengalaman itu (meskipun mahal) punya nilai.

Nilai buat:

  • Membentuk selera: lo sekarang tahu mana barang berkualitas dan mana yang cuma gimmick.
  • Membangun percaya diri: lo pernah punya barang bagus, dan itu ngasih lo rasa cukup—lo nggak perlu membuktikan apa pun lagi.
  • Menentukan batasan: lo tahu persis berapa batas maksimal utang lo sebelum lo panik. Itu pengetahuan berharga.

Jadi, jangan malu sama masa lalu lo. Peluk dia. Lalu lanjutkan.

Common Mistakes Wanita Early 20-an Soal Keuangan (Dari yang Pernah Ngalamin)

Gue nggak ngerasa paling pinter. Tapi gue udah jatuh. Dan ini pelajaran dari jatuh gue:

1. Beli barang cuma karena viral di TikTok atau IG
Lo liat review. Lo liat testimoni. Lo liat diskon. Lo lupa cek dompet. Solusi: tiap mau beli barang viral, tunggu 3 hari. Kalau setelah 3 hari lo masih ngiler, baru pertimbangkan. Biasanya, hasrat ilang dalam 24 jam.

2. Pake “cicilan 0%” tanpa itung total
Lo pikir 0% itu gratis. Padahal tetep lo bayar lebih (karena biaya admin, biaya kartu kredit, dll). Solusi: kalau bisa cash, bayar cash. Kalau nggak bisa cash, berarti lo nggak mampu beli barang itu.

3. Gengsi sama circle pertemanan
Temen lo beli tas mahal. Lo iri. Lo beli juga. Padahal temen lo punya bisnis ortu. Lo cuma karyawan magangSolusi: cari circle baru yang value-nya bukan dari barang. Atau jujur aja: “Gue nggak punya duit.” Temen yang beneran temen ngerti.

4. Lupa prioritas
Lo beli skincare 500 ribu, tapi lupa bayar listrikSolusi: buat anggaran terbalik: gaji masuk → bayar kebutuhan (listrik, air, cicilan) → tabung 20% → sisanya buat foya-foya. Bukan sebaliknya.

5. Nggak pernah nge-track pengeluaran
Lo kira belanja 1 juta. Pas dihitung: 3 juta. Kaget. Solusi: pake aplikasi (kayak Monefy atau BukuKas). Catet setiap pengeluaran. Kopi 10 ribu? Catet. Rutin. Lo bakal kaget pas liat total akhir bulan.

Practical Tips: Foya-foya With Control (Buat Lo yang Masih Early 20-an)

Lo nggak perlu stop belanja. Tapi lo perlu aturan. Biar nggak nangis pas akhir bulan:

Tip #1: Pake *50/30/20 rule*

  • 50% gaji buat kebutuhan (sewa kos, listrik, makan, transportasi, cicilan)
  • 30% buat keinginan (foya-foya: skincare, tas, traveling, nongkrong)
  • 20% buat tabungan & investasi (darurat, masa depan)

Contoh: gaji 5 juta → 2,5 juta kebutuhan, 1,5 juta foya-foya, 1 juta tabungan.

*Lo masih bisa beli tas 500 ribu. Tuh dari 1,5 juta. Nggak papa. Tapi setelah itu, sisa 1 juta buat foya-foya bulan ini. Atur.*

Tip #2: Pisahin rekening
Buat 3 rekening:

  • Rekening A: buat kebutuhan (otomatis ke debet listrik, dll)
  • Rekening B: buat foya-foya (ini kartu yang lo bawa kemanapun)
  • Rekening C: tabungan (jangan disentuh, jangan dikonek ke kartu debet)

Kalau rekening B habis? Ya udah. Stop foya-foya sampai bulan depan.

Tip #3: Belajar bilang “INI MAHAL”
Dulu gue malu bilang “mahal” di depan temen. Sekarang gue bangga“Wah, ini di luar budget gue.” Itu pernyataan dewasa, bukan pernyataan miskin.

Tip #4: Terapkan *30-day rule* untuk barang >500 ribu
Kalau lo mau beli barang di atas 500 ribu, tunggu 30 hari. Tandai di kalender. Kalau setelah 30 hari lo masih pengen, beli. Kalau lo lupa, berarti lo nggak butuh.

Tip #5: Selingkuh dengan thrifting
Lo bisa dapet tas branded second 200-300 ribu. Baju 50 ribu. Masih bagus. Nggak ada yang tahu itu second. Kecuali lo cerita.

Tanda-tanda Lo Udah Lulus dari Reckless Spending Era

Gue kasih checklist. Kalau lo udah ngerasain ini, selamat. Lo udah dewasa secara finansial:

  • Lo mikir 3 kali sebelum klik “beli sekarang”.
  • Lo bisa bedain antara “gue butuh” dan “gue pengen“.
  • Lo nggak gengsi bawa bekal dari rumah.
  • Lo punya dana darurat minimal 3 bulan pengeluaran.
  • Lo nggak panik kalau ada diskon 50% (karena lo tahu itu marketing).
  • Lo bisa bilang “nggak” ke ajakan liburan teman kalau memang nggak muat di budget.
  • Lo bangga lihat saldo tabungan naik, lebih bangga daripada liat tas baru.

Kalau lo udah mencapai 5 dari 7 poin di atas? Lo hebat. Dan lo berhak foya-foya sekali-sekali. Tapi dengan kontrol.

Refleksi: Dari Foya-foya ke Mapan (Tanpa Nyesel)

Gue mau cerita dikit.

Dulu gue beli iPhone 12 saat itu padahal gaji cuma 6 juta. Cicil 12 bulan. Beban banget. Tiap bulan gue nangis pas liat tagihan.

Tapi dari situ, gue belajar: “Gue nggak akan pernah cicil HP lagi.”

Sekarang gue pake HP 2 jutaan. Cash. Puas.

Dulu gue beli skincare 2 jutaan. Sekarang gue pake skincare lokal 200 ribuan. Kulit gue lebih bagus.

Dulu gue ngoyo traveling ke luar negeri. Sekarang gue staycation di kota sendiri. Lebih santai.

Gue nggak nyesel dulu foya-foya. Karena dari situ, gue tahu batasan gue.

Gue tahu mana yang worth it dan mana yang cuma gengsi.

Gue tahu rasa punya barang bagus, dan gue nggak kejar-kejaran lagi.

Pengalaman itu mahal. Tapi harganya sebanding dengan kedewasaan yang gue dapet sekarang.

Pesan untuk Lo yang Masih di Early 20-an

Lo lagi baca artikel ini. Mungkin sambil rebahan. Mungkin sambil ngecek isi keranjang belanja online.

Gue nggak nyuruh lo stop foya-foya. Tapi gue ngasih lo kebijaksanaan dari yang udah lulus:

Foya-foyalah. Tapi dengan sadar. Jangan cuma ikut-ikutan. Tanyain diri lo: “Gue beli ini buat gue, atau buat orang lain?”

*Kalau buat gue, silakan. Kalau buat orang lain (biar keren, biar diterima, biar nggak FOMO), berhenti. *

Karena di usia 30-an nanti, nggak ada yang inget lo punya tas apa di 20-an. Yang inget cuma lo sendiri. Dan lo bakal ketawa (atau nangis) liat foto lama.

Pilihannya ada di lo sekarang.

Sekarang gue mau tanya: *apa barang termahal yang lo beli di usia 20-an? Lo masih pake? Atau cuma jadi pajangan?*

Jawab jujur. Nggak ada yang judge. Kita semua pernah di sana.

sp0Idt62